Yang Dimaksud Pengertian Masyarakat Rural Beserta Ciri-Cirinya
Masyarakat Rural (masyarakat desa), mempunyai kekerabatan yang lebih bersahabat dan lebih mendalam. Sistem kehidupan biasanya berkelompok ...
https://kajianamalan.blogspot.com/2019/10/yang-dimaksud-pengertian-masyarakat.html
Masyarakat Rural (masyarakat desa), mempunyai kekerabatan yang lebih bersahabat dan lebih mendalam. Sistem kehidupan biasanya berkelompok atas dasar sistem kekeluargaan. Penduduk masyarakat pedesaan pada umumnya hidup dari pertanian.
Pada masyarakat desa yang diutamakan yakni perhatian khusus terhadap keperluan utama kehidupan, hubungan-hubungan untuk memperhatikan fungsi pakaian, makanan, rumah dan sebagainya. Misalnya saja pada ketika menghidangkan masakan terhadap tamu.
Ciri Masyarakat Rural
Adanya tingkah laris masyarakat itu banyak dipengaruhi oleh majemuk faktor. Antara lain dari lingkungan hidup, baik lingkungan alami maupun lingkungan sosial, pengalaman, pendidikan yang diperolehnya, serta faktor keturunan.
Lingkungan alami sebagai lingkungan hidup insan yang sangat bervariasi kondisi letak geografinya, turut serta memberi warna kepada tabiat penghuninya, sehingga menunjukkan ciri khas tersendiri, yang berbeda dengan yang lainnya. Karena desa dan masyarakatnya terbentuk dengan sejarah masing-masing melalui kurun waktu tertentu, maka karakteristik lingkungan dan masyarakatnya pun tentu sangat bervariasi pula.
Yang mana masyarkat desa selalu dikonotasikan dengan ciri-ciri tradisional. Secara sederhana berdasarkan Sanapiah Faizal dalam tulisannya yang dikutip oleh Sapari Imam Asy’ari dalam bukunya Sosiologi Kota dan Desa, “memberikan ciri khas Desa sebagai masyarakat keluarga dan masyarakat paternalistik.”
Masyarakat keluarga atau sanggup dikatakan masyarakat paguyuban, sebab masyarakatnya saling kenal dengan baik, mempunyai keintiman yang tinggi di kalangan warganya, mempunyai rasa persaudaraan yang kuat, mempunyai jalinan emosional yang kuat, saling bantu membantu atas dasar kekeluargaan.
Masyarakat paternalistik, terlihat dari para sampaumur dan anak- anak atau yang berstatus sebagai anak, yang mana mereka lebih banyak mendapatkan atau pasrah terhadap keputusan atau yang menjadi impian orang tua. Ada perasaan “kualat” ketika mereka menentang dan bersikap berani pada orang tua. Kuatnya ikatan insan dengan alam yang mendasari kesatuan masyarakat dan pemerintahan desa, juga mempunyai tugas besar dalam hidup kejiwaan atau kerokhanian masyarakat, sehingga orang barat menamakan pandangan ibarat itu dengan animisme.
Ada tahapan-tahapan yang diuraikan secara luas oleh Bellah berkenaan dengan bidang keagamaan, Bellah mengasumsikan seri-seri lima tahapan ideal yang sanggup dianggap sebagai kristalisasi yang relative stabil dari kompleksitas yang sekiranya sama sepanjang banyak sekali dimensi yang berbeda-beda. Dimensi-dimensi tersebut yakni sistem simbol keagamaan, tindakan atau sikap keagamaan, organisasi keagamaan.
Yang pertama yakni Agama Primitif, dalam agama tersebut sistem simbol merupakan perantara yang mengandaikan adanya banyak sekali diferensiasi antara insan dengan alam. Makara insan terbebas dan benar-benar insan (manusiawi). Adanya kesesuaian antara dunia mitos dan dunia sesungguhnya.
Yang kedua yakni Agama Arkais, yang mana agama tersebut secara esesnsinya yakni suatu pemujaan sejati pada unsur-unsur dewa, para pendeta, pemujaan atau pengorbanan.
Yang ketiga yakni Agama Historis, agama dalam kategori ini dalam beberapa hal bersifat transendental, menegakkan suatu dunia keagamaan lepas dan di atas dunia sekuler.
Yang keempat Agama modern awal secara esensinya runtuhnya dunia kebakaan yaitu dualism berpindah ke tingkat individual dan dengan begitu tindakan keagamaan menjadi identik dengan seluruh kehidupan.
Dan yang kelima yakni Agama modern, yang mana ditandai oleh analisa yang mendalam ihwal hakikat simbolisasi itu sendiri. Dunia dualistis digantikan olehdimensi yang tak berhingga yang berpusat pada otonomi individu.
Memang telah sepenuhnya disadari bahwa dalam konstruksi tatanan masyarakat secara mikro, terjadi aspek-aspek simbolis dan keorganisasian kehidupan sosial. keanggotaan dalam masyarakat tidak hanya dibatasi dengan adanya wilayah yang membatasinya, namun ada keanggotaan dalam masyarakat itu sebab adanya pembiasaan terhadap lingkungan yang diakibatkan oleh orang-orang lain yang ada di dalam wilayah yang sama.
Mereka dibuat oleh kekerabatan dengan pusat zona sentral, yang mana suatu fenomena dari nilai-nilai dan kepercayaan, yang merupakan pusat simbol . nilai-nilai dan kepercayaan mensugesti masyarakat. Dikatakan pusat sebab paling terakhir dan tidak sanggup dijabarkan lagi.dan diterima begitu saja oleh sebagian besar orang yang tidak sanggup memberi perumusan yang terperinci akan sifatnya yang tidak sanggup dijabarkan itu. Zonasentral menempati sifat keramat.
Adanya semacam pemujaan-pemujaan yang dilakukan oleh komunitas tertentu itu yakni hasil konstruksi dari orang-orang yang ada didalamnya yang tentunya mempunyai kepercayaan terhadap pemujaan atau proteksi ritual. Sehingga terbentuklah komunitas moral dalam suatu masyarakat tersebut.
Kemudian karakteristik masyarakat rural atau tradisional dalam memandang duduk kasus pendidikan itu lebih sederhana dibanding dengan masyarakat kotayang lebih modern, Yang mana pada masyarakat tradisional, keluarga memegang tugas penting dalam menjalankan fungsi pendidikan, sebab pendidikan yang diberikan masih berkutat dalam duduk kasus transfer nilai antara orang renta dengan anak.
Pada masyarakat desa yang diutamakan yakni perhatian khusus terhadap keperluan utama kehidupan, hubungan-hubungan untuk memperhatikan fungsi pakaian, makanan, rumah dan sebagainya. Misalnya saja pada ketika menghidangkan masakan terhadap tamu.
Yang Dimaksud Pengertian Masyarakat Rural Beserta Ciri-Cirinya
Pada orang-orang desa mereka tidak memperhatikann pandangan masyarakat sekitarnya, tanpa memperhatikan tamunya suka atau tidak. Mereka masak sesuai dengan apa yang mereka masak biasanya.Ciri Masyarakat Rural
Adanya tingkah laris masyarakat itu banyak dipengaruhi oleh majemuk faktor. Antara lain dari lingkungan hidup, baik lingkungan alami maupun lingkungan sosial, pengalaman, pendidikan yang diperolehnya, serta faktor keturunan.
Lingkungan alami sebagai lingkungan hidup insan yang sangat bervariasi kondisi letak geografinya, turut serta memberi warna kepada tabiat penghuninya, sehingga menunjukkan ciri khas tersendiri, yang berbeda dengan yang lainnya. Karena desa dan masyarakatnya terbentuk dengan sejarah masing-masing melalui kurun waktu tertentu, maka karakteristik lingkungan dan masyarakatnya pun tentu sangat bervariasi pula.
Yang mana masyarkat desa selalu dikonotasikan dengan ciri-ciri tradisional. Secara sederhana berdasarkan Sanapiah Faizal dalam tulisannya yang dikutip oleh Sapari Imam Asy’ari dalam bukunya Sosiologi Kota dan Desa, “memberikan ciri khas Desa sebagai masyarakat keluarga dan masyarakat paternalistik.”
Masyarakat keluarga atau sanggup dikatakan masyarakat paguyuban, sebab masyarakatnya saling kenal dengan baik, mempunyai keintiman yang tinggi di kalangan warganya, mempunyai rasa persaudaraan yang kuat, mempunyai jalinan emosional yang kuat, saling bantu membantu atas dasar kekeluargaan.
Masyarakat paternalistik, terlihat dari para sampaumur dan anak- anak atau yang berstatus sebagai anak, yang mana mereka lebih banyak mendapatkan atau pasrah terhadap keputusan atau yang menjadi impian orang tua. Ada perasaan “kualat” ketika mereka menentang dan bersikap berani pada orang tua. Kuatnya ikatan insan dengan alam yang mendasari kesatuan masyarakat dan pemerintahan desa, juga mempunyai tugas besar dalam hidup kejiwaan atau kerokhanian masyarakat, sehingga orang barat menamakan pandangan ibarat itu dengan animisme.
![]() |
| Masyarakat Rural |
Yang pertama yakni Agama Primitif, dalam agama tersebut sistem simbol merupakan perantara yang mengandaikan adanya banyak sekali diferensiasi antara insan dengan alam. Makara insan terbebas dan benar-benar insan (manusiawi). Adanya kesesuaian antara dunia mitos dan dunia sesungguhnya.
Yang kedua yakni Agama Arkais, yang mana agama tersebut secara esesnsinya yakni suatu pemujaan sejati pada unsur-unsur dewa, para pendeta, pemujaan atau pengorbanan.
Yang ketiga yakni Agama Historis, agama dalam kategori ini dalam beberapa hal bersifat transendental, menegakkan suatu dunia keagamaan lepas dan di atas dunia sekuler.
Yang keempat Agama modern awal secara esensinya runtuhnya dunia kebakaan yaitu dualism berpindah ke tingkat individual dan dengan begitu tindakan keagamaan menjadi identik dengan seluruh kehidupan.
Dan yang kelima yakni Agama modern, yang mana ditandai oleh analisa yang mendalam ihwal hakikat simbolisasi itu sendiri. Dunia dualistis digantikan olehdimensi yang tak berhingga yang berpusat pada otonomi individu.
Memang telah sepenuhnya disadari bahwa dalam konstruksi tatanan masyarakat secara mikro, terjadi aspek-aspek simbolis dan keorganisasian kehidupan sosial. keanggotaan dalam masyarakat tidak hanya dibatasi dengan adanya wilayah yang membatasinya, namun ada keanggotaan dalam masyarakat itu sebab adanya pembiasaan terhadap lingkungan yang diakibatkan oleh orang-orang lain yang ada di dalam wilayah yang sama.
Mereka dibuat oleh kekerabatan dengan pusat zona sentral, yang mana suatu fenomena dari nilai-nilai dan kepercayaan, yang merupakan pusat simbol . nilai-nilai dan kepercayaan mensugesti masyarakat. Dikatakan pusat sebab paling terakhir dan tidak sanggup dijabarkan lagi.dan diterima begitu saja oleh sebagian besar orang yang tidak sanggup memberi perumusan yang terperinci akan sifatnya yang tidak sanggup dijabarkan itu. Zonasentral menempati sifat keramat.
Karakteristik Masyarakat Rural
Terkait dengan karakteristik masyarakat rural yang mana dalam hal urusan sikap keagamaan atau kepercayaannya, masih terdapat adanya unsur-unsur yang bersifat pemujaan terhadap suatu benda atau sejenisnya.Adanya semacam pemujaan-pemujaan yang dilakukan oleh komunitas tertentu itu yakni hasil konstruksi dari orang-orang yang ada didalamnya yang tentunya mempunyai kepercayaan terhadap pemujaan atau proteksi ritual. Sehingga terbentuklah komunitas moral dalam suatu masyarakat tersebut.
Kemudian karakteristik masyarakat rural atau tradisional dalam memandang duduk kasus pendidikan itu lebih sederhana dibanding dengan masyarakat kotayang lebih modern, Yang mana pada masyarakat tradisional, keluarga memegang tugas penting dalam menjalankan fungsi pendidikan, sebab pendidikan yang diberikan masih berkutat dalam duduk kasus transfer nilai antara orang renta dengan anak.
