Apa Yang di Maksud Dengan Pengertian Seks Bebas
Pengertian Seks Bebas - Secara umum, segala tingkah laris yang didorong oleh hasrat seksual dengan lawan jenisnya, bentuk tingkah lakunya...
https://kajianamalan.blogspot.com/2019/10/apa-yang-di-maksud-dengan-pengertian.html
Pengertian Seks Bebas - Secara umum, segala tingkah laris yang didorong oleh hasrat seksual dengan lawan jenisnya, bentuk tingkah lakunya majemuk mulai dari perasaan tertarik, hingga tingkah laris berkencan, bercumbu, dan bersenggama. disebut dengan sikap seks. Sedangkan yang dimaksud dengan sikap seksual bebas ialah semua bentuk sikap seksual yang dilakukan dengan banyak pasangan.
Pada sikap seks bebas, hubungan cenderung dilakukan dengan siapa saja yang disukai dan bersedia melakukannya.
Manusia ialah makhluk seksual, jikalau diterjemahkan dalam bahas yang sederhana, sedangakan seksualitas ialah bagaimana orang mencicipi dan mengekspresikan sifat dasar dan ciri-ciri seksualnya yang khusus.
Perilaku seks merupakan problem zaman, yang muncul berpangkal dari potensi dasar kemanusiaan yang tidak direalisasikan melalui jalur-jalur yang relevan baik dalam perspektif moralitas maupun humanistis. Perealisasian naluri seks yang salah pada akhirnnya akan menjadikan problem kemanusiaan tersendiri yang perlu dicari solusinya.
Merabaknya penyakit kelamin menyerupai sipilis, AIDS dan meningkatnya kasus homo seksual, lesbian serta maraknya kasus free seks (seks bebas), merupakan indikasi semakin banyaknya problem kemanusiaan yang terkait dengan naluri seks yang sanggup mengancam peradaban manusia.
Seiring dengan perkembangannya ada pula sekelompok insan yang menyebarluaskan kebebasan dalam seks. Ide kebebasan seks dicetuskan alasannya ialah orang beranggapan bahwa problem seks sepenuhnya ialah masalah yang berkaitan dengan privasi.
Dan masyarakat tidak berhak mencampuri urusan tersebut, para penganjur seks bebas menolak prinsip kontrolsosial terhadap acara seks, mereka menuntut adanya tingkah laris seksual murni individual yang kokoh berlandaskan pada iktikad kebebasan seks sepenuh-penuhnya.
Namun tidak semua mengiyakan faham tersebut dan bahkan secara eksklusif ada yang menolak wacana faham tersebut, dalam sanggahannya seks bebas secara eksesif tidak ada bedanya dengan promiscuityatau "campur aduk seks tanpa aturan" atau dalam bahasa umum sering disebut dengan pelacuran.
Lebih memprihatinkan faham tersebut kini banyak merasuki kalangan muda yang sedang bergulat pada puncak idealisme, yaitu cukup umur yang telah berada pada masa adolescent atau yang telah duduk di dingklik mahasiswa (usia 18-25).
Pendidikan seks yang terlalu terbuka akan menimbulkan lebih banyak cukup umur melaksanakan seks pranikah alasannya ialah terlalu mengerti dengan dampak-dampaknya. Masalah seks bebas ialah masalah-masalah yang sangat kompleks, oleh alasannya ialah itu kalau kita menunjukkan pendidikan yang sempurna maka terlebih dulu kita harus memeriksa pada aspek budaya kita alasannya ialah keterbatasankita untuk mencerna bahan seks yang benar.
Beberapa perbuatan yang sanggup diklasifikasikan menjadi aspek-aspek dalam sikap seks yang mencakup mencium pipi, mencium bibir, necking, petting, dan intercourse.
Seperti halnya Pakar seks yang juga Spesialis Obsetridan Ginekologi, Nugraha, yang dikutip Gemari September 2001 mengungkapkan bahwa dari tahun-ketahun data cukup umur yang melaksanakan hubungan seks semakin meningkat. Dari sekitar 5% pada tahun 1980-an, menjadi 20% pada tahun 2000.
Kelompok cukup umur yang masuk dalam penelitian tersebut rata-rata berusia 17 - 21 tahun, dan umurnya masih sekolah di tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA).
Survey yang dilakukan oleh Pilar PKBI Jawa Tengah (2002, h.2) mengenai acara mahasiswa dalam berpacaran antara lain berpegang tangan(93,3%) mencium pipi(84,6%), mencium bibir(60,9%), necking(3,61%), petting(25%), dan melaksanakan Intercourse(7,6%).
Dan kemudian hasil penelitian dari PKBI tersebut dijadikan oleh penulis sebagai aspek untuk mengklasifikasikan bentuk-bentuk sikap seksual yang ditulis sebagai tolok ukur penelitian terhadap mahasiswa yang bermukim di Kelurahan Plombokan Semarang.
Perilaku seksual dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu dorongan seksual, nilai-nilai sosio kultural dan moral, pengetahuan seksual, dan Fungsi seksual. Keempat faktor ini sangat dekat berkaitan dalam menghipnotis sikap seksual seseorang.
Jikalau dorongan seksual normal maka sikap seksual juga normal. Tetapi lisan dorongan seksual sangat diatur oleh nilai-nilai sosio cultural dan moral yang sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai agama.
Disisi lain, nilai-nilai agama sangat bekerjasama atau dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya yang bekerjasama dangen seksualitas.
Banyak rujukan bagaimana perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bekerjasama dengan seksualitas pada karenanya menghipnotis sikap seksual manusia.
Fungsi seksual juga sangat menghipnotis sikap seksual. Seseorang dengan fungsi seksual yang normal, maka sikap seksualnya berbeda dengan mereka yang mengalami disfungsi seksual (gangguan fungsi) seksual.
Berdasarkan penelitian oleh Sarlito Wirawan Sarwono yang dilakukan terhadap 471 cukup umur Jakarta, dorongan seksual cukup umur putra lebih besar dibandingkan cukup umur putri, dengan rasa keingingtahuan cukup umur putra yang lebih tinggi dibandingkan cukup umur putri wacana seksualita, cukup umur putra cenderung lebih terbuka dan fullgardalam aneka macam problem wacana seksualita, sedangkan cukup umur putri masih banyak ataupun lebih berhati-hati dalam problem seksualitas.
Merebaknya isu-isu moral kini ini terkadang bukan lagi menjadi problem ringan alasannya ialah masalah-masalah menyerupai ini akan semakin bertambah pelik dalam tiap tahunnya, terlebih pelaku-pelaku beserta korbannya ialah kaum cukup umur terutama para pelajar dan mahasiswa.
Seperti halnya seks bebas, imbas kultur dan moralitas hingga detik ini masih menjadi satu problem yang teknis dan bukan sebagai refleksi sebagaimana layaknya moral diaplikasikan dalam diri seseorang melalui pendidikan.
Pengetahuan seksual yang didapat dari cukup umur lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan serta pesatnya laju perkembangan eknologi informasi kini ini. Dari penelitian yang dulakukan oleh Sarwono, menemukan bahwasannya lebih banyak didominasi responden mendapat informasi wacana seksualita melalui sobat yang juga menjadi sember penerangan utama.
Hal ini berbanding terbalik dengan hal yang semestinya, yang menyatakan bahwa gotong royong pengetahuan seksualita harus lebih banyak diperoleh dari orang renta dan bukan dariorang lain diluar lingkungan keluarga.
Menurut penelitian Sarwono pula ditemukan bahwasannya pengetahuan cukup umur wacana fungsi seksual itu sendiri sangat sempit, kebanyakan dari responden menyampaikan bahwa seksual ialah pemenuhan kebutuhan biologis semata yang dilakukan didalamnya hanya menyerupai senggama, pacaran, dan perpaduan alat kelamin. Terlebih dari itu responden tidak memahami aturan-aturan yang berlaku sebelum melaksanakan hal-hal yang berkaitan dengan seksualita.
![]() |
| Yang di Maksud Dengan Pengertian Seks Bebas |
Pada sikap seks bebas, hubungan cenderung dilakukan dengan siapa saja yang disukai dan bersedia melakukannya.
Yang di Maksud Dengan Pengertian Seks Bebas
Pada sikap seks bebas cenderung sanggup menjadikan beberapa akhir antara lain; penularan Penyakit Menular Seksual (PMS), khususnya HIV/AIDS dan kehamilan yang tidak diinginkan. Perilaku seks bebas ialah tergolong dalam jenis sikap seks tidak sehat.Manusia ialah makhluk seksual, jikalau diterjemahkan dalam bahas yang sederhana, sedangakan seksualitas ialah bagaimana orang mencicipi dan mengekspresikan sifat dasar dan ciri-ciri seksualnya yang khusus.
Perilaku seks merupakan problem zaman, yang muncul berpangkal dari potensi dasar kemanusiaan yang tidak direalisasikan melalui jalur-jalur yang relevan baik dalam perspektif moralitas maupun humanistis. Perealisasian naluri seks yang salah pada akhirnnya akan menjadikan problem kemanusiaan tersendiri yang perlu dicari solusinya.
Merabaknya penyakit kelamin menyerupai sipilis, AIDS dan meningkatnya kasus homo seksual, lesbian serta maraknya kasus free seks (seks bebas), merupakan indikasi semakin banyaknya problem kemanusiaan yang terkait dengan naluri seks yang sanggup mengancam peradaban manusia.
Seiring dengan perkembangannya ada pula sekelompok insan yang menyebarluaskan kebebasan dalam seks. Ide kebebasan seks dicetuskan alasannya ialah orang beranggapan bahwa problem seks sepenuhnya ialah masalah yang berkaitan dengan privasi.
Dan masyarakat tidak berhak mencampuri urusan tersebut, para penganjur seks bebas menolak prinsip kontrolsosial terhadap acara seks, mereka menuntut adanya tingkah laris seksual murni individual yang kokoh berlandaskan pada iktikad kebebasan seks sepenuh-penuhnya.
Namun tidak semua mengiyakan faham tersebut dan bahkan secara eksklusif ada yang menolak wacana faham tersebut, dalam sanggahannya seks bebas secara eksesif tidak ada bedanya dengan promiscuityatau "campur aduk seks tanpa aturan" atau dalam bahasa umum sering disebut dengan pelacuran.
Lebih memprihatinkan faham tersebut kini banyak merasuki kalangan muda yang sedang bergulat pada puncak idealisme, yaitu cukup umur yang telah berada pada masa adolescent atau yang telah duduk di dingklik mahasiswa (usia 18-25).
Yang Di Maksud Mada Cukup Umur
Masa cukup umur ialah masa rentan dengan permasalahan-permasalahan yang sanggup mengarahkan cukup umur untuk melaksanakan seks bebas.Tidak kuatnya menahan hawa nafsu pada masa cukup umur akan menciptakan masa depan mereka maju dan terpuruk.Pendidikan seks yang terlalu terbuka akan menimbulkan lebih banyak cukup umur melaksanakan seks pranikah alasannya ialah terlalu mengerti dengan dampak-dampaknya. Masalah seks bebas ialah masalah-masalah yang sangat kompleks, oleh alasannya ialah itu kalau kita menunjukkan pendidikan yang sempurna maka terlebih dulu kita harus memeriksa pada aspek budaya kita alasannya ialah keterbatasankita untuk mencerna bahan seks yang benar.
![]() |
| Sex Bebas |
Beberapa perbuatan yang sanggup diklasifikasikan menjadi aspek-aspek dalam sikap seks yang mencakup mencium pipi, mencium bibir, necking, petting, dan intercourse.
Seperti halnya Pakar seks yang juga Spesialis Obsetridan Ginekologi, Nugraha, yang dikutip Gemari September 2001 mengungkapkan bahwa dari tahun-ketahun data cukup umur yang melaksanakan hubungan seks semakin meningkat. Dari sekitar 5% pada tahun 1980-an, menjadi 20% pada tahun 2000.
Kelompok cukup umur yang masuk dalam penelitian tersebut rata-rata berusia 17 - 21 tahun, dan umurnya masih sekolah di tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA).
Survey yang dilakukan oleh Pilar PKBI Jawa Tengah (2002, h.2) mengenai acara mahasiswa dalam berpacaran antara lain berpegang tangan(93,3%) mencium pipi(84,6%), mencium bibir(60,9%), necking(3,61%), petting(25%), dan melaksanakan Intercourse(7,6%).
Dan kemudian hasil penelitian dari PKBI tersebut dijadikan oleh penulis sebagai aspek untuk mengklasifikasikan bentuk-bentuk sikap seksual yang ditulis sebagai tolok ukur penelitian terhadap mahasiswa yang bermukim di Kelurahan Plombokan Semarang.
Perilaku seksual dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu dorongan seksual, nilai-nilai sosio kultural dan moral, pengetahuan seksual, dan Fungsi seksual. Keempat faktor ini sangat dekat berkaitan dalam menghipnotis sikap seksual seseorang.
Jikalau dorongan seksual normal maka sikap seksual juga normal. Tetapi lisan dorongan seksual sangat diatur oleh nilai-nilai sosio cultural dan moral yang sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai agama.
Disisi lain, nilai-nilai agama sangat bekerjasama atau dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya yang bekerjasama dangen seksualitas.
Banyak rujukan bagaimana perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bekerjasama dengan seksualitas pada karenanya menghipnotis sikap seksual manusia.
Fungsi seksual juga sangat menghipnotis sikap seksual. Seseorang dengan fungsi seksual yang normal, maka sikap seksualnya berbeda dengan mereka yang mengalami disfungsi seksual (gangguan fungsi) seksual.
Berdasarkan penelitian oleh Sarlito Wirawan Sarwono yang dilakukan terhadap 471 cukup umur Jakarta, dorongan seksual cukup umur putra lebih besar dibandingkan cukup umur putri, dengan rasa keingingtahuan cukup umur putra yang lebih tinggi dibandingkan cukup umur putri wacana seksualita, cukup umur putra cenderung lebih terbuka dan fullgardalam aneka macam problem wacana seksualita, sedangkan cukup umur putri masih banyak ataupun lebih berhati-hati dalam problem seksualitas.
Merebaknya isu-isu moral kini ini terkadang bukan lagi menjadi problem ringan alasannya ialah masalah-masalah menyerupai ini akan semakin bertambah pelik dalam tiap tahunnya, terlebih pelaku-pelaku beserta korbannya ialah kaum cukup umur terutama para pelajar dan mahasiswa.
Seperti halnya seks bebas, imbas kultur dan moralitas hingga detik ini masih menjadi satu problem yang teknis dan bukan sebagai refleksi sebagaimana layaknya moral diaplikasikan dalam diri seseorang melalui pendidikan.
Pengetahuan seksual yang didapat dari cukup umur lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan serta pesatnya laju perkembangan eknologi informasi kini ini. Dari penelitian yang dulakukan oleh Sarwono, menemukan bahwasannya lebih banyak didominasi responden mendapat informasi wacana seksualita melalui sobat yang juga menjadi sember penerangan utama.
Hal ini berbanding terbalik dengan hal yang semestinya, yang menyatakan bahwa gotong royong pengetahuan seksualita harus lebih banyak diperoleh dari orang renta dan bukan dariorang lain diluar lingkungan keluarga.
Menurut penelitian Sarwono pula ditemukan bahwasannya pengetahuan cukup umur wacana fungsi seksual itu sendiri sangat sempit, kebanyakan dari responden menyampaikan bahwa seksual ialah pemenuhan kebutuhan biologis semata yang dilakukan didalamnya hanya menyerupai senggama, pacaran, dan perpaduan alat kelamin. Terlebih dari itu responden tidak memahami aturan-aturan yang berlaku sebelum melaksanakan hal-hal yang berkaitan dengan seksualita.

