Belajar Wacana Antara Pilihan Kita Dan Pilihan Allah Ta'aalaa
Oleh Himler Usman السلام عليكم ورحمة الله وَبَرَكَاتهُ بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم Allah Subhanahu ...
https://kajianamalan.blogspot.com/2019/10/belajar-wacana-antara-pilihan-kita-dan.html
Oleh Himler Usman
السلام عليكم ورحمة الله وَبَرَكَاتهُ
بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم
Allah Subhanahu wa Ta'aalaa berfirman yang artinya :
“Boleh jadi kau membenci sesuatu, padahal beliau amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kau menyukai sesuatu, padahal beliau amat jelek bagimu; Allah mengetahui, sedang kau tidak mengetahui. “ (QS. al-Baqarah: 216)
Allah Subhanahu wa Ta'aalaa berfirman yang artinya :
“Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hambanya, pasti mereka akan berbuat melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki, sungguh, Dia Maha teliti terhadap (keadaan) hamba-hambanya.”
(QS. asy-Syuura: 27)
Sahabat-sahabatku yang dirahmati Allah
Ingin mempunyai harta sebanyak mungkin, ingin meraih jabatan setinggi mungkin atau ingin mempunyai rumah semegah dan semewah mungkin.
Mayoritas insan terselip harapannya menyerupai itu.
Dan dikala melalui perjuangan yang panjang dan berat, atau bahkan telah berdoa dengan sepenuh pengharapan belum juga mendapat sesuai keinginan, terkadang muncul putus asa, kekecewaan dan zhan yang jelek kepada Allah.
Karena berdasarkan kita, semua yang kita inginkan itu baik untuk kita. Sehingga tatkala apa yang kita sanggup ternyata kurang dari yang kita inginkan, rasa kecewa menghampiri kita. Padahal Allah lebih tahu wacana apa yang baik untuk kita dan apa yang buruk.
Bahkan di antara wujud kasih sayang Allah kepada hamba-Nya ialah dikala Dia membagi rezeki sesuai kadar maslahat bagi hamba-Nya, bukan sesuai dengan apa yg menjadi keinginan mereka.
Bisa saja kita mengharap sesuatu menjadi milik kita, padahal sesuatu yang lain justru lebih baik untuk kita. Atau mengharap lebih banyak lagi harta, padahal ternyata itu sesuatu yang memadharatkan kalau terwujud menyerupai apa yang kita suka.
Maka Allah memutuskan apa yang lebih maslahat bagi hamba-Nya, meskipun hamba itu tidak suka sebab ketidaktahuannya.
“Boleh jadi kau membenci sesuatu, padahal beliau amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kau menyukai sesuatu, padahal beliau amat jelek bagimu; Allah mengetahui, sedang kau tidak mengetahui. “ (QS. al-Baqarah: 216)
Apakah mungkin pertolongan yang banyak itu mengakibatkan madharat? Ya, sangat mungkin. Bisa jadi harta yang banyak menjadikan pemiliknya tergerak melaksanakan sejenis maksiat yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Makin banyak harta, varian maksiatpun semakin banyak dan terbuka peluangnya.
Bisa jadi harta yang banyak itu akan menyibukkan kita, sampai melupakan kiprah sejati kita sebagai seorang hamba. Atau akan menciptakan kita sombong, merasa bahwa semua yang di tangan itu semata-mata sebab hasil kerja keras kita. Lalu merasa lebih mulia dari orang lain yg lebih sedikit hartanya katimbang darinya.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya :
“ Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hambanya, pasti mereka akan berbuat melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki, sungguh, Dia Maha teliti terhadap (keadaan) hamba-hambanya.”
(QS. asy-Syuura: 27)
Maka sebaik-baik perilaku ialah berikhtiar sekuat tenaga, bertawakal dan berharap sepenuhnya kepada Allah, dan selebihnya ridha terhadap apa yang Allah berikan kepada-Nya. Disertai persangkaan yang baik, bahwa apa yang Allah berikan kepada kita itu lebih baik dari apa yang kita inginkan.
Bahkan selayaknya kita bersyukur bahwa Allah memberi kita sesuai dengan pilihan-Nya, dan tentulah pilihan Allah lebih baik dariada pilihan kita.
Demikianlah, supaya Allah anugerahkan qana’ah kepada kita dalam rahmah dan ridha-Nya, Aamiin.

