Belajar Wacana Saling Menasehati Itu Menyambung Rasa Dan Menghidupkan Hati
Oleh Himler Usman السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتهُ بِسۡـــــــــمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡـمَـٰنِ ٱلرَّحِـــــــيمِ All...
https://kajianamalan.blogspot.com/2019/10/belajar-wacana-saling-menasehati-itu.html
Oleh Himler Usman
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتهُ
بِسۡـــــــــمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡـمَـٰنِ ٱلرَّحِـــــــيمِ
Allah Subhanahu wa Ta'aalaa berfirman yang artinya :
"Demi masa. Sesungguhya, insan itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati dalam kebenaran dan nasihat-menasihati dalam kesabaran." (QS Al ’Ashr: 1-3).
Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda yang artinya :
" Bila salah seorang dari kau meminta pesan tersirat kepada saudaranya maka hendaknya (yang diminta) memberi nasihat." (HR. Bukhari).
Sahabat-sahabatku yg dirahmati Allah
Saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran merupakan budaya kaum mukmin. Setelah beriman, berinfak shaleh, kaum mukmin diperintahkan saling memberi nasihat, saling berwasiat, sehingga mereka pun menjadi orang-orang yang beruntung.
Sering kita dengar dari keterangan dan klarifikasi para ulama, para kiayi, ustazd, dan muballigh bahwa kiprah paling penting dari para Rasul ialah memberikan risalah Allah Subhanahu wa Ta'aalaa kepada ummat manusia.
Urgensi isi risalah para rasul itu sama, yaitu “agar insan menyembah hanya kepada Allah dan mengingkari semua bentuk sesembahan selain Allah (thaghut).”
Ternyata selain kiprah mulia dan suci ini, para nabi banyak disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai pemberi nasehat. Hal ini disebabkan lantaran insan tidak cukup hanya mendapatkan risalah dakwah Islam saja.
Akan tetapi juga membutuhkan pemberi nasehat dan peringatan dalam hidupnya, lantaran insan ialah mahluk pelupa dan pelalai, bahkan makhluk yang banyak berbuat kesalahan.
Oleh lantaran itu, Allah Subhanahu wa Ta'aalaa menyatakan:
"Demi masa. Sesungguhya, insan itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati dalam kebenaran dan nasihat-menasihati dalam kesabaran." (QS Al ’Ashr: 1-3).
Semangat surat al-‘Ashr ini menjelaskan keharusan setiap orang untuk beriman dan berinfak sholeh, bila ingin selamat baik di dunia maupun di akhirat. Bahkan iktikad dan amal sholeh saja ternyata masih merugi, sebelum menyempurnakannnya dengan semangat saling memberi nasehat dan bersabar dalam mempertahankan iman, meningkatkan amal shaleh, menegakkan kebenaran dalam menjalankan kehidupan ini.
Sahabat-sahabatku yang berbahagia
Sedemikian pentingnya prinsip “saling memberi nasehat” dalam anutan Islam, maka setiap insan pasti membutuhkannya, siapapun, kapanpun, dan di manapun beliau hidup. Layaklah kalau dikatakan bahwa “saling memberi menasihat “ ialah sebagai sebuah keniscayaan yang harus ada pada setiap muslim.
Namun sangatlah disayangkan bila ada di antara kita yang menganggap sepele soal nasehat ini. Atau merasa dirinya sudah cukup, sudah pintar, sudah berpengalaman sehingga tidak lagi butuh yang namanya nasehat dari orang lain.
Padahal dengan mendapatkan nasehat dari orang lain menandakan adanya kejujuran, kerendahan hati, keterbukaan dan memperlihatkan kelebihan pada orang tersebut.
Kalimat “nasaha” yang artinya nasehat, makna dasarnya ialah menjahit atau menambal dari pakaian yang sobek atau berlubang. Maka orang yang mendapatkan nasehat artinya orang tersebut siap utk ditutupi kekeruangan, kesalahan, dan malu yg ada pada dirinya.
Sedangkan orang yang tidak mau mendapatkan nasehat memperlihatkan adanya sifat kesombongan, keangkuhan, dan ketertutupan pada orang tersebut.
Nasihat ialah mengajak kebajikan dan melarang kemungkaran (‘amar ma’ruf nahi munkar).
"Dan, hendaklah ada dari antara kau segolongan umat yang berseru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar. Dan, merekalah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali Imran:104).
Nasihat itu menghidupkan hati, membangunkan kesadaran, mencegah kekhilafan.
"Berilah peringatan, sebetulnya peringatan itu, bermanfaat bagi orang-orang mu’min" (QS. Adz Dzariyat:55).
Karenanya, Rasullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan budaya saling menasihati ini.
"Bila salah seorang dari kau meminta pesan tersirat kepada saudaranya maka hendaknya (yang diminta) memberi nasihat." (HR. Bukhari).
Salah satu tiang tegaknya agama ialah nasihat. Tanpa saling menasihati antara umat Islam, maka agama tidak akan tegak.
"Agama ialah pesan tersirat bagi Allah, bagi Rasul-Nya, untuk para pemimpin umat Islam dan untuk para orang awamnya." (HR.Bukhari).
Dari hadist di atas sanggup kita pahami bahwa memberi dan mendapatkan nasehat ialah berlaku untuk manusia, siapapun dia, apapun kedudukan dan jabatannya, tanpa kecuali.
Hadist di atas juga menjelaskan kepada kita bahwa agama akan tegak manakala tegak pula sendi-sendinya. Sendi-sendi itu ialah saling menasehati dan saling mengingatkan antara sesama muslim dalam keimanan kepada Allah, keimanan kepada Rasul, dan keimanan kepada Kitab-Nya.
Artinya, semoga kita selalu berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran dari Allah dan Kitab-Nya dan mentauladani sunah-sunah Rasul-Nya.
Sedangkan bentuk nasehat kepada para pemimpin ialah ketaatan dan proteksi kita sebagai rakyat kepada para pemimpin Islam dalam menegakkan kebenaran, mengingatkan mereka bila lalai dan menyimpang dengan cara yang bijak dan kelembutan, meluruskan mereka bila menyimpang dan salah.
Sedangkan nasehat untuk orang-orang biasa adalah dengan memberi kasih sayang kepada mereka, memperhatikan kepentingan hajat mereka, menjauhkan hal yang merugikan mereka dan sebagainya.
Sahabatku.....
Di dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta'aalaa mengisahkan ihwal bagainama Nabi Musa a.s., seorang nabi dan rasul yang ternyata sanggup mendapatkan nasehat dari salah seorang kaumnya.
"Dan datanglah seorang pria dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata: Hai Musa, sebetulnya pembesar negeri sedang berunding ihwal kau untuk membunuhmu, lantaran itu keluarlah (dari kota ini), sebetulnya saya termasuk orang-orang yang memberi nasehat kepadamu. Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut, menunggu-nunggu dengan khawatir, beliau berdoa: Ya Tuhanku selamatkanlah saya dari orang-orang yang dzalim itu." (QS. Al Qashash: 20-21)
Lalu bagaimana dengan kita yang orang biasa yang bukan Nabi dan Rasul? Sudah barang tentu sangatlah membutuhkan nasehat. Kita senantiasa membutuhkan nasehat dari orang lain. Demikian juga harus bersedia memberi nasehat kepada orang lain yang memohon nasehat kepada kita.
"Hak seorang muslim pada muslim lainnya ada enam: bila berjumpa hendaklah memberi salam; bila mengundang dalam sebuah acara, maka datangilah undangannya; bila dimintai nasehat, maka nasehatilah ia; bila memuji Allah dalam bersin, maka doakanlah; bila sakit, jenguklah ia; dan bila meninggal dunia, maka iringilah ke kuburnya." (HR. Muslim)
Dengan saling menasehati antara kita, maka akan banyak kita peroleh pesan yang tersirat dan manfaat dalam kehidupan kita. Akan banyak kita temukan solusi dari banyak sekali persoalan, baik dalam skala pribadi, keluarga, masyarakat bangsa bahkan Negara.
Karenanya nasehat itu sangatlah diharapkan untuk menutupi kekurangan dan malu yang ada di antara kita. Karena nasehat itu sanggup memberi laba dan keselamatan bagi yang tulus mendapatkan dan menjalankannya. Karena saling menasehati itu sanggup melunakkan hati dan mendekatkan hubungan antara kita. Karena satu sama lain di antara kita saling membutuhkannya.
Sahabat-sahabatku......
Saling menasehati antara sesama muslim terasa semakin kita perlukan, terutama saat tersebar upaya menfitnah mencerai-beraikan antara sesama muslim yang tiba dari orang-orang kafir, munafik, dan orang-orang fasik yang ingin melemahkan umat Islam sebagai penduduk terbesar negeri ini. Mereka tidak senang terhadap kesatuan dan persatuan umat Islam.
Demikian pula saat mendekati hari-hari menjelang pesta demokasi menyerupai pilkada, pilgub, pemilihan umum, dan sebagainya. Terkadang panasnya suhu politik menyulut perilaku orang in-rasional (tidak rasional) dan emosi di tengah masa, bahkan sanggup mengarah ke perilaku anarkhis dan merusak.
Dalam situasi menyerupai itu, kita sering lupa akan makna ukhuwah Islam. Lupa tugas amar ma’ruf nahi mungkar dan lupa tugas dan kewajiban untuk saling menasehati dengan cara saling kasih sayang antara kita.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'aalaa senantiasa memperlihatkan pemahaman kepada kita akan arti pentingnya saling memberi nasehat antara kita.
Semoga kita bisa memberi nasehat dan senang mendapatkan nasehat dari siapapun, selama tidak bertentangan dengan nilai kebenaran dan kebaikan, sehingga kita sanggup terhindarkan dari ancaman mencerai-beraikan dan fitnah yang sanggup memecah belah umat Islam, masyarakat, bangsa, dan Negara, dalam rahmah dan ridha Allah Ta'aalaa. Aamiin..

